Sunday, May 18, 2008

Bloggerwave.com

Do you want to make money through blogging? Have no idea how to start? Visit Bloggerwave as I did. This advertising media gives me opportunity to write article about the current issues, people products, and get paid at the same time. Did you see my sponsored posting in this site? Just like that.

Simply register your blog to join its market place and happy blogging!

Further info:

Labels:

Look of the year


There are something differ and unique from beauty contest online by Look of the year, where is no secret judges and everyone who visit this site will easily vote the participant.

If you are young and beautiful this might be your best opportunity register yourself, and let people as well as model agencies keep watching on you. Being a model, appear on covers of magazines, and traveling the world still your biggest obsession? Sign up now.

More info: http://www.lookoftheyear.com

Labels:

Hindi language

Hindi language is the official national language of India and is one of the 23 scheduled languages, as defined in the Constitution. In India more than 180 million people speak Hindi as their mother tongue and another 300 million use it as second language. Hindi is also spoken by sizeable Indian in Bangladesh, Canada, UK, USA, Mauritius, Philippines, Singapore, South Africa, and parts of the Middle East and East Africa

With more than 487 million speakers and one of the most widely-spoken language in the world "Hindi translation" becoming important nowadays. Even only 41% of the Indian population speak Hindi dialects, and difficult to provide an "India translation" in a single language, Modern Standard Hindi is used for administration of the central government.

For those who want to know better about India, they might need "translation India". Some one says language is a bridge for different culture and custom, so it will extending your mutual understanding with Hindi speaker.

Labels:

Tuesday, April 24, 2007

Semangat Chairil Anwar


Chairil nampak mulai yakin akan narasinya sendiri dan mulai menuliskan. Dan narasi pun berkelanjutan:

Kita – anjing diburu – hanya melihat sebagian dari sandiwara sekarang

Tidak tahu Romeo dan Juliet berpeluk di kubur atau ranjang

Lahir seorang besar dan tenggelam beratus ribu

Keduanya harus dicatat, keduanya dapat tempat


Di luar terdengar lagi rentetan suara tembakan.


Dan kita nanti tiada sawan lagi diburu

Jika bedil sudah disimpan, cuma kenangan berdebu;

Kita memburu arti atau diserahkan kepada anak lahir sempat.

Karena itu jangan mengerdip, tatap dan penamu asah,

Tulis karena kertas gersang, tenggorokan kering sedikit mau basah!


Chairil melipat catatannya,

Kembali menyandak ranselnya,

Berlalu dari kamar sana.


Chairil melompat dari kereta pada peron stasiun Karawang yang dipenuhi laskar

berbagai macam dan meriam-meriam penangkis serangan udara. Pada seorang pemuda yang berdandan semacam koboi dia bertanya:



“ Bung, di mana Markas Besar?”

(Syuman Djaya ; Aku ; Metafor ; 2003)

Wednesday, March 07, 2007


Menunggu

Vladimir: Nah, bagaimana? bisa pergi?
Estragon: Ya. Ayo, kita pergi.
Mereka tetap tidak beranjak.

LAYAR MENUTUP


(Samuel Beckett ; Menunggu Godot ; Penerbit Bentang ; 1999)

Tuesday, February 06, 2007

Lekra dan Manikebu

Di dalam negeri, Pram teraniaya bukan hanya oleh rezim Orde Baru. Dia juga menerima “karma“ dari rekan-rekan sejawatnya, para sastrawan sendiri. Syahdan, pada paruh pertama tahun 1960-an Pram sangat berkuasa. Sebagai Ketua Lekra dan Pemimpin Redaksi Harian Bintang Timur, dengan lembar kebudayaan Lentera, Pram biasa menghajar lawan-lawan politiknya, terutama para penanda tangan Manifes Kebudayaan, yang dilecehkan dengan sebutan “Manikebu”.
Ketika itu, tak ada Koran atau majalah yang berani memuat karya para “Manikebuis” ini. Hingga mereka harus menulis dengan nama samaran. Diantara para penanda tangan Manifes, Goenawan Mohamad (GM) paling menderita terkena dampak terror Pram cs. Namun, dendam yang tertuju kearah Pram justru datang dari para sastrawan, yang ketika itu belum berbunyi atau jauh dari hiruk pikuk politik. Hingga mereka sebenarnya kurang terkena dampak terror dari Pram.
GM sendiri sebagai wartawan Tempo sempat ke pulau Buru menengok Pram dengan pen uh empati. Ketika Pram meninggal beberapa waktu lalu, Catatan Pinggir GM di Majalah Tempo juga sangat obyektif. Tak tampak sama sekali adanya dendam pribadi, terlebih dendam politik. Beda dengan beberapa sastrawan yang sampai saat ini pun ingatannya masih tertuju ke masa pra- G30S, ketika Pram masih sangat berkuasa. Dendam politik ini tampaknya akan sulit dihapus begitu saja oleh berlalunya waktu.
Sikap para sastrawan yang pernah berseteru dengan Pram sebenarnya tipikal mewakili sikap Pemerintah Indonesia. Meskipun Orde Baru telah tumbang, pemerintahan BJ Habibie, Gus Dur, Mega, dan SBY tidak pernah mencabut larangan beredar buku-buku Pram. Padahal “dosa” politik Pram sudah ditebusnya dengan menderita di tahanan Pulau Buru tanpa pernah diadili. Pencabutan larangan ini penting sebab karya-karya Pram, Sitor Situmorang, Agam Wispi, dan lain-lain selama ini tidak pernah tercantum dalam antologi resmi dan buku-buku sekolah.
(F Rahardi; Pram dan Politik Nobel Kapitalis; Kompas 4 Februari 2007)

Saturday, January 20, 2007



Menyembah

Aku mengangkat sembah sebagaimana biasa aku lihat dilakukan punggawa terhadap kakekku dan nenekku dan orangtuaku, waktu lebaran. Dan yang sekarang tak juga kuturunkan sebelum Bupati itu duduk enak di tempatnya. Dalam mengangkat sembah serasa hilang seluruh ilmu dan pengetahuan yang kupelajari tahun demi tahun belakangan ini. Hilang indahnya dunia sebagaimana dijanjikan oleh kemajuan ilmu. Hilang anthusiasme para guruku dalam menyambut hari esok yang cerah bagi ummat manusia. Dan entah berapa kali lagi aku harus mengangkat sembah nanti. Sembah – pengagungan pada leluhur dan pembesar melalui perendahan dan penghinaan diri! Sampai sedatar tanah kalau mungkin! Uh, anak cucuku tak kurelakan menjalani kehinaan ini.
(Pramoedya Ananta Toer; Bumi Manusia; Penerbit Lentera Dipantara)

Monday, January 01, 2007



Dan damai di Bumi!

Bawalah Warta Gembira ke seantero dunia,
Tetapi tanpa mengangkat pedang dan tombak,
Dan jika engkau bertemu rumah-ibadah
Jadikanlah ia perlambang damai antar umat!
(Karl May; Dan damai di Bumi!;Kepustakaan Populer Gramedia 2002)

Monday, December 18, 2006



Ibu

Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintang untuk aku anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki, penuh darah... penuh nanah

Seperti udara... kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas...ibu...ibu

Ingin kudekat dan menangis di pangkuanmu
Sampai aku tertidur, bagai masa kecil dulu
Lalu doa-doa baluri sekujur tubuhku
Dengan apa membalas...ibu...ibu....

Seperti udara... kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas...ibu...ibu

(Iwan Fals; ibu)