Tuesday, April 24, 2007

Semangat Chairil Anwar


Chairil nampak mulai yakin akan narasinya sendiri dan mulai menuliskan. Dan narasi pun berkelanjutan:

Kita – anjing diburu – hanya melihat sebagian dari sandiwara sekarang

Tidak tahu Romeo dan Juliet berpeluk di kubur atau ranjang

Lahir seorang besar dan tenggelam beratus ribu

Keduanya harus dicatat, keduanya dapat tempat


Di luar terdengar lagi rentetan suara tembakan.


Dan kita nanti tiada sawan lagi diburu

Jika bedil sudah disimpan, cuma kenangan berdebu;

Kita memburu arti atau diserahkan kepada anak lahir sempat.

Karena itu jangan mengerdip, tatap dan penamu asah,

Tulis karena kertas gersang, tenggorokan kering sedikit mau basah!


Chairil melipat catatannya,

Kembali menyandak ranselnya,

Berlalu dari kamar sana.


Chairil melompat dari kereta pada peron stasiun Karawang yang dipenuhi laskar

berbagai macam dan meriam-meriam penangkis serangan udara. Pada seorang pemuda yang berdandan semacam koboi dia bertanya:



“ Bung, di mana Markas Besar?”

(Syuman Djaya ; Aku ; Metafor ; 2003)