Monday, August 08, 2005


Masyarakat modern dan obsesinya

Salah satu ciri masyarakat modern adalah obsesinya dengan memberi label atau menggolongkan-golongkan segala sesuatu. Yang lebih jauh lagi, acapkali pelabelan atau penggolongan itu dilaksanakan tidak secara induktif (berdasarkan kenyataan yang ada), melainkan berdasarkan ideology yang dianggap sah dan mendominasi suatu masyarakat.

Disinilah kita lihat naifnya berbicara mengenai biseks di kalangan eksekutuf kita. Kalau secara esensialis kita berbicara tentang eksekutif yang berperilaku biseks, kira-kira memang ada sih. Tetapi dalam hal ini mengapa kita heran? Mengapa tidak menghebohkan anak buah kapal pinisiyang pada tanggal muda berhubungan seks dengan pekerja seks perempuan (karena bayarannya lebih tinggi) sementara kian mendekati tanggal tua berhubungan dengan pekerja seks waria (karena bayarannya lebih rendah), seperti teramati di Pelabuhan Gresik, Jawa Timur? Mengapa pula kita tidak pernah mempergunjingkan kenek bus malam yang berhubungan seks dengan penumpang waria waria di jok belakang busnya, dan keesokan harinya pulang sebagai suami dan bapak kepada istri dan anaknya.

Saya pikir wacana kita sangat miskin, dan cenderung elitis. Sebagai masyarakat borjuis kita memegang ideology seksualitas yang kaku, sehingga apabila terjadi “penyimpangan” sedikit saja, langsung kita heboh. Kebanyakan kita tidak terlampau peduli apabila anak perempuan keluarga petani miskin di desa jadi pekerja seks, tetapi heboh apabila remaja putri borjuis ternyata ada di plaza-plaza menjadi pecum (perek cuma-cuma). Banyak dari kita tidak tahu bahwa di pedesaan Ponorogo, umpamanya, ada anak laki-laki yang dijadikan gemblakan (anak asuh yang dilibatkan dalam hubungan seks) oleh orang dewasa (warokan maupun warok), tetapi kebakaran jenggot ada anak-anak yang disemburit (dipenetrasi anal) oleh lelaki dewasa di perkotaan.
(Dr. Dede Oetomo, Memberi suara pada yang bisu, Pusaka Marwa Yogyakarta)

0 Comments:

Post a Comment

<< Home